Minggu, 02 Juni 2013

Memberi Salam, Sunnah Yang Nyaris Hilang


masjid cotabatu 1

Catatan Perjalanan
Imbalo Iman Sakti
- Filipina -
Pagi itu mini bus yang akan membawa kami telah standby di depan Hotel tempat kami menginap.
Selepas sarapan, kami dibawa ke kantor Hadja Bainon G Kiram. Disamping sebagai Regional Vice Governor Aotonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM), Madam Bainon ini, juga Sekretaris Departemen Kesejahte raan Sosial dan Pembangunan (DSWD – ARMM).
Terletak dalam satu komplek dikelilingi tembok tinggi, belasan bangunan dari berbagai instansi yang menyangkut peranan wanita, ada disitu.
Sejak ketibaan kami di Lapangan Terbang Cotabatu yang mendampingi kami, sekretaris Madam Bainon, seorang wanita, selama empat hari keberadaan kami disana, sekretaris pribadi Madam Bainon ini terus bersama kami. Wanita paroh baya, berkerudung ini dengan cekatan menyiapkan semua keperluan, baik itu acara seminar ataupun kunjungan.
Sejak menjejakkan kaki di Manila, terlihat peran wanita sangat dominan disana. Perempuan Islam dengan mudah dikenali karena semua memakai kerudung. Tak kira di Mall-Mall, banyak dari mereka yang berdagang. Di sektor pemerintahan pun banyak perempuan Filipina yang memegang tampuk pimpinan. Dua presiden Filipina adalah wanita. Di MRT dan LRT, gerbong untuk wanita dipisahkan. Hendak masuk/keluar Mall saja pun, lelaki perempuan, jalannya terpisah.
Di Cotabatu peran ini semakin nyata, entah karena ratusan tahun dalam perang, banyak lelaki yang memanggul senjata dan berperang, jadi terpaksa wanita yang mengganti peranan lelaki, mencari nafkah.
Menikmati suasana Cotabatu, mini bus kami meluncur arah keluar kota. Dari jauh terlihat bangunan masjid megah didominasi warna putih. Empat menaranya menjulang tinggi, kubah besar warna kuning ditengahnya, agak mirip dengan masjid emas di Brunei, dan memang yang membangun masjid putih itu adalah Sultan Hasanal Bolkiyah. Masjid ini menjadi land mark Cotabatu.
Karena letaknya diluar kota dan jauh dari pemukiman, Masjid ini hanya ramai pada shalat Jumat saja. Terletak persis di muara teluk Moro. Menjadi tujuan turis dan kunjungan pasangan anak muda. Mereka berpoto ria baik didalam maupun dihalaman masjid yang luas itu. Melihat pakiannya mereka bukanlah Muslim karena yang wanita tidak memakai kerudung.
Ada moment posisi berpoto yang mereka lakukan adalah mengangkangi bangunan masjid. Didalam poto, seluruh bangunan masjid itu akan terlihat dibawah selangkangan mereka. Dan posisi yang lain adalah dengan membungkuk, seperti posisi rukuk, pantat mereka mengarah ke bangunan masjid. Entah apa maksud nya berpose seperti itu.
Meskipun Mindanao dan empat provinsi lainnya adalah Pemerintahan otonomi Muslim, tetapi mayoritas penduduknya non muslim. Sejak dijajah Spanyol dan Amerika, tanah-tanah pertanian yang subur banyak dimiliki pihak non muslim. Pengaruh budaya penjajah pun sangat terasa sampai kehari ini, budaya itu melekat, dalam keseharian. Sampai kepelosok, dari yang kecil sampai yang tua, mereka menggunakan bahasa inggris disamping bahasa daerah.
Kata Hai, Hallo, how are you sapaan saat berjumpa dan bye bye, see you, hal yang acap digunakan. Cipika, Cipiki adalah hal yang lumrah. Padahal teman itu pengurus pemuda Islam.
Nyaris tak terdengar salam – Assala mualaikum – saat bertemu dan berpisah. Teman seperjalanan setuju, “ Mari kita mulakan”.
Dan itu kami laksanakan, menebarkan salam, sepanjang perjalanan. Dalam penutupan Seminar tentang potensi wakaf di Hotel Eston, di ruang yang ada patung besar berdiri, patung Bunda Maria. Doa dalam bahasa Arab pun dilantunkan seluruh peserta.
Kepada vice Gobernor Hj Bainon, perihal ini kami harap dapat terus dilaksanakan. Amin (***)

Minggu, 30 Oktober 2011

Bikin Pulau Sendiri, demi Anak dan Istri

oleh : Agnes Dhamayanti

Dua Minggu keluarga Apon bergotong-royong membuat Pulau Semakau, Kelurahan Kasu. Meski aman dari gusuran, tapi tiap malam tidurnya tak pernah nyenyak karena sering datang ombak besar.
inilah Pulau Semakau buatan pak Apon dan
keluarganya Tampak rumah pak Apon
dan tiga rumah anaknya (dari kirike kanan)


Boat itu melaju kencang ke arah Pulau Kasu. Buih putih bergumul mengekor panjang di belakang kapal. Di perbatasan Batam-Singapura mata penumpangnya Suhana (29) tak mau berkedip memandangi pulau sekitarnya. Pulau-pulau kecil berwarna hijau diperindah dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit Singapura dari arah barat hingga timur.

Aktivis Muhammadiyah Malaysia ini selalu tak ingin melepaskan pemandangan indah kala berkunjung ke Palau Samakau. Pulau yang berhadapan langsung dengan Singapura ini dihuni keluarga besar Apon. Merekalah yang membuat pulau Semakau setelah tergusur dari Pulau Nirup.

Suhana akhirnya tiba di pelantar rumah milik Apon (72), pria pemilik pulau itu. Pelukan sukacita mewarnai pertemuan Suhana dan Hasnah (69) istri Pak Apon. ”Lame tak jumpe. Rindu rasanye?,”kata Suhana, di Minggu sore itu (23/10). Anak-anak Hasnah juga ikut berangkulan, mulai dari anak keduanya hingga anak paling bungsu, Zainan (46), Majenah (40), Marinah (38) juga Suzana (34).

Dari rumah panggungnya itu, Hasnah yang mengenakan baju melayu dan rambutnya sudah memutih semua itupun mengajak kami ke tengah pulau. ”Dulu di sini hanya ada pohon asam saja. Kami timbun pakai pasir laut supaya jadi daratan,”kata wanita yang memiliki 5 anak perempuan ini.

Ingatan Hasnah pun kembali ketika 20 tahun lalu. Kala seorang pengusaha dari Batam datang ke Pulau Nirup. Ia yang sudah tinggal bertahun-tahun di pulau itu harus pergi bersama 14 kepala keluarga lainnya. ”Pulau itu di beli orang Brunei, untuk dibuat resort,”kata Hasnah lagi. ”Saat itu juga, kami berpencar,”

Hasnah menambahkan. Ada yang pergi ke pulau Sarang, Pemping, Kasu, Mongkol, Mecan juga ada yang memilih Belakang Padang. ”Mamak tak mau kayak mereka. Kata mamak,kalau kita tinggal di pulau lain, pasti digusur lagi. Lebih baik kita buat tempat tinggal baru saja,” timpal Suzana (34), anak bungsu Hasnah.

Dengan uang ganti rugi Rp1juta dari pengusaha itu, Apon bersama istri juga lima anak gadisnya serta satu orang menantu mulai menimbun sebuah daratan kecil yang letaknya tak jauh dari pulau Nirup. ”Saya angkat pasir juga bawa bibit pohon kelapa dari pulau Nirup,” kata Suzana yang saat itu masih berumur 14 tahun.

Selama dua minggu ditimbun, jadilah pulau baru yang luasnya 2 hektar yang kemudian dinamai Pulau Semakau. ”Saya tak tau ingin saja kasih nama itu,”kata Hasnah. Pemberian nama itu bisa jadi karena tepat di depan pulau itu, terdapat juga pulau Semakau milik Singapura.

Hanya saja bedanya pulau Semakau di Singapura ditimbun dengan bekas debu bakaran sampah puluhan ribu ton, agar tidak tenggelam. Sedangkan pulau Semakau yang di huni pak Apon dan anak beranak ini hanya di pagari batu miring dan di timbun dengan pasir yang ada di sekitar pulau itu. ”Batu miring itupun baru ada sekitar lima tahun ini. Itupun baru mengelilingi setengah dari pulau. Dibantu lurah Kasu. Dia kasih Rp5juta dulu. Nanti kalau sudah habis dibantu lagi.

Tapi sampai satu tahun ini belum juga ada bantuan lagi,” kata Somad, menantu dari anak kedua Hasnah yang bernama Zairinah. ”Dulu sering cemas kena ombak besar, kalau sekarang tak terlalu lagi,” kata Majenah, anak ketiga Hasnah. Rumah mamak, kata wanita yang memiliki satu putra ini, sudah sering hanyut. Yang paling terakhir, kejadian tahun tahun 2000, bapak matanya sudah tak bisa lihat lagi karena katarak, tiba-tiba jam 12 malam, ombak besar masuk ke dalam rumah, dinding hanyut, barang-barang juga ikut terbawa air laut, yang tinggal hanya lantai saja.

Mamak cepat-cepat bawa bapak ke luar rumah. Dulu rumah mamak besar, sekarang ini tinggal setengahnya saja. Karena terlalu sering rusak kena ombak. Somad juga mengaku rumahnya pernah terkena ombak sebelum ada batu miring itu. Tiga dinding rumahnya hancur. Untung saja empat anaknya selamat. ”Waktu itu siang hari, kami semua terjaga. tidak ada yang sedang tidur,”kata pria dua anaknya hanya mampu disekolahkan hingga SD dan seorang lagi tamat SMP.

Pulau Semakau yang masuk di kelurahan Kasu kecamatan Belakang Padang Kota Batam ini memang hanya didiami keluarga pak Apon. Empat rumah panggung terbuat dari papan yang mengelilingi pulau itu adalah rumah anak-anak pak Apon. Sedangkan pak Apon juga memiliki rumah sendiri. Hanya satu anak pak Apon yang tidak tinggal di Semakau melainkan di pulau Mongkol.

Dari pulau ini terlihat jelas Pulau Sekeng atau Pulau Semakau Singapura. ”Indah sekali pemandangan dari pulau Semakau pak Apon ini,”kata Imbalo, pemilik Yayasan Hangtuah di Batam yang menjadi pendamping rombongan. Apalagi dua pulau ini bernama sama tetapi berlainan negara dan hanya di batasi selat. Bedanya Semakau di Singapura menjadi salah satu tujuan wisata yang menjanjikan. Tak demikian dengan Semakau pak Apon.

Di pulau milik pak Apon ini, sudah berdiri sebuah mushola yang diberi nama At Taqwa. Seluruh biaya pendirian mushola berasal dari Muhammadiyah Internasional bekerja sama dengan yayasan AMCF (Asia Muslim Charity Foundation). ”Kami bantu mencarikan tempatnya. Biasanya pulau-pulau terpencil yang didiami oleh warga beragama Islam. Selain di pulau Semakau ada juga di puluhan pulau-pulau lain yang tersebar di Batam. Kira-kira sudah 20 mushola yang terbangun,”kata Imbalo yang rajin berkunjung ke daerah-daerah tersebut.

Bangunan mushola itu sudah dibuat permanen, luasnya 30m2 dan berdiri di atas tanah yang agak tinggi, berbeda dengan lima rumah pak Apon yang dibuat dari papan dan masih berada di atas laut. Namun rumah-rumah yang dibuat pak Apon, pria asal Jawa ini, lebih luas.

Rumah-rumah yang ada di pulau Semakau itu memang tak memungkinkan dibuat diatas tanah. Karena luas tanah timbunan itu tak mencukupi. ***

Jauh untuk Sekolah

Melati (16), cucu pak Apon dari Marinah, anak ketiganya ini hanya bisa di rumah membantu mamaknya mengerjakan pekerjaan rumah.

Sejak tamat SD tiga tahun lalu, Melati tak melanjutkan sekolah lagi. ”Saya tak sanggup biayai sekolahnya. Karena harus ke pulau Kasu untuk melanjutkan ke SMP. Biaya transportnya Rp40/hari. Saya tak sanggup. Makanya rata-rata cucu pak Apon hanya tamat SD.

Hanya satu anak saya yang nomor dua, Siti Zurina (18) yang tamat SMP,”kata Somad yang bisa berpenghasilan Rp400 ribu/hari dari mencari ikan. ”Saya kasihan saja dengan mamak juga bapak. Kalau waktu SD, kami bisa tinggal di rumah Mak Zainan (47), dia kakaknya mamak yang tinggal di Mongkol. Memang kami tinggal di sana, hari Minggu saja baru balek ke Pulau Semakau.

Kadang-kadang mamak yang tengok kami,”kata Melati yang ditemani Siti Zurina, kakaknya. Kalau ke pulau Kasu memang tak lama, kata Melati, hanya 20 menit saja. Bisa bawa boat sendiri. Yang mahal hanya bahan bakarnya.

Beberapa cucu laki-laki pak Apon kini menjadi nelayan membantu mencari ikan orangtuanya. Hanya satu cucu laki-laki pak Apon yang bekerja di Batam. Dia anak satu-satunya Majenah. Anak Majenah sebenarnya dua orang, namun yang pertama meninggal. ”Waktu itu saya harus dibawa ke Batam. Karena bidan yang biasa membantu kelahiran tak sanggup.

Karena terlalu lama dijalan, bayi saya tak bisa diselamatkan lagi. Maklum saja, perjalanan dari sini ke Batam bisa satu jam pake boat punya sendiri,”kenang Majenah. (agn)

Rabu, 24 Agustus 2011

Mukena Untuk Merna





Setibanya kami di pulau Caros air sudah pasang, sehingga pompong yang kami naiki bisa langsung merapat ke bibir pantai. Kalau air laut surut untuk ke darat kita harus melalui rumah panggung pak Awang. Tak ada pelantar disitu.

Pulau Caros adalah perkampungan Suku Laut, dulu Caros masuk wilayah Tanjung Pinang, kini telah masuk wilayah Batam. Bila hendak ke Caros dari Batam setelah Jembatan empat Pulau Rempang berbelok ke kiri ke Desa Sembulang. Dari dermaga Sembulang naik pompong ke Caros sekitar 20 menit lagi.

Perkampungan ini hanya di huni oleh 10 keluarga, dan keluarga itu semuanya masih sanak beranak dan kerabat pak Awang Sabtu, Pak Awang Sabtu mempunyai 8 orang anak, 6 orang anaknya sudah berkeluarga, dan tinggal di kampung itu.

Semuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan beratap daun nipah/getah dan sebagian seng itu berdiri diatas laut, hanya sebuah bangunan mushala kecil ukuran 5 x 5 yang berada di darat.

Seorang dari anak pak Awang yang sudah berkeluarga tadi bernama Merna, hanya dia seoranglah dari delapan bersaudara anak pak Awang yang perempuan.

Tengah hari itu senin (22/08) kami melaksanakan shalat Juhur berjamaah di mushala kecil yang baru selesai didirikan, terlihat dua orang anak lelaki pak Awang ikut shalat. Di saf belakang ada tiga orang wanita yang ikut shalat, tetapi hanya seorang dari mereka yang memakai mukena (telekung).



Perempuan yang bermukenah bernama Halimah, suaminya bernama Den. Sementara seorang lagi yang tak ber-mukena namanya Ita, suami Ita bernama Jamil, keduanya perempuan itu adalah menantu pak Awang dan perempuan satu nya lagi yang tak ber-Mukena isteri pak Awang.

Merna,anak perempuan pak Awang tak ikut shalat karena sejak menikah setahun yang lalu, Merna telah berpindah agama mengikuti agama suaminya.

Kedatangan kami kepulau Caros, kononnya dalam rangka meresmikan pemakaian mushala kecil itu. Sudah beberapa hari yang lalu pak Awang memberitahukan "Datanglah mushala dah siap bile nak dipakai" ujar pak Awang melalui henponnya.

Penghidupan penduduk disitu adalah nelayan tradisional, selain itu mereka menyambi menjadi kuli dapur arang. Agaknya dengan adanya dapur arang dibuat disitu pak Awang yang masih muda, mulai bermukim disitu, puluhan tahun yang lalu, di tengah tengah hutan mangrove (bahan baku arang) yang subur.

Tak ada sesiapa pun lelaki di kampung itu yang dapat shalat, pak Awang sendiri tak begitu lancar mengucapkan duakalimat syahadat.

Jadi hanya Halimah seorang yang bisa shalat dan sedikit dapat membaca Quran, tentu, karena Halimah bukan penduduk asli pulau Caros. Itulah yang sedang kami bincangkan siapa agaknya yang berkenan dan siap datang ke pulau itu untuk mengajarkan Islam kepada mereka.

Mukena & Syahadat Bersama

Mushala kecil seperti di Caros, ada belasan buah telah selesai di bangun di merata tempat di sekitaran Batam. Hampir semua dibangun di perkampungan Suku Laut. Beberapa tempat telah ada Dai nya. Tetapi lebih banyak lagi seperti di Caros tak ada sesiapa yang rutin datang untuk membina dan mengajari mereka tentang Islam.




Siang itu ada hadiah Mukena untuk isteri pak Awang , sumbangan dermawan dari Batam, senang sekali kelihatan dia mendapat Mukena baru, tak tahu lah apakah itu Mukena pertama baginya, begitu pun dengan Ita anak menantunya mendapatkan sehelai Mukena juga. Meskipun Halimah telah mempunyai Mukena, dia pun mendapat sehelai yang baru.
Ada dua orang anak perempuan remaja tanggung, yaitu anak pak Jamil dan anak pak Bogol, mereka berduapun mendapatkan masing – masing seorang sehelai.

Merna, yang sedang duduk di samping kiri ibunya, melirik kearahku. : “Merna mau” tanyaku kepadanya, Merna mengangguk. Pak Awang yang juga duduk di samping kanan Merna tersenyum kecut sembari berkata “Boleh kah”? pak Awang tahu anaknya sudah tak Islam lagi. Pak Awang dan isterinya terlihat sayang betul kepada Merna, duduk pun diapit kedua orang tua itu, maklumlah hanya seorang Merna anak perempuan mereka.

“Kalau suaminya izinkan” jawabku. Sambil melirik ke sekeliling ruangan melihat dimana suami Merna duduk. “ Suamiku ada di rumah “ ujar Merna. Dan Merna bergegas memanggil suaminya dirumah yang tak berapa jauh dari Mushala .



“Tak apa kalau dia mau, aku izinkan “ ujar Julius suami Merna setibanya di Mushala. “Kalau begitu alangkah baiknya yang memakaikannya awak” saranku.

Jadilah siang itu Julius memasangkan Mukena kepada isterinya. Disaksikan ayah dan ibunya serta keluarga yang lain yang hadir di mushala itu. Terlihat berlinang air mata Merna, Merna yang pernah duduk di kelas 4 sekolah dasar ini, berjanji akan ikut shalat berjamah bersama Halimah.


Seorang lagi menantu perempuan pak Awang dari anak lelaki pak Awang yang bernama Minggu, mendapat Mukena. Minggu ini, sejak 3 tahun yang lalu setelah menikah dengan isterinya, telah berpindah agama,jadi non muslim. Minggu pun dengan rela hati memasangkan mukena kepada isterinya, mungkin seumur – umur baru itulah agaknya Minggu memegang Mukena, sehingga dia agak canggung dan tak pandai memasangkannya.

“Sudah lah biar aku saja” kata isteri Minggu sembari berkata, bahwa waktu kecil dulu dia pun pernah memakai Mukena.

Pak Awang terlihat tertegun dan bergumam, "Bagaimana ini mereka kan dah tak Islam"
"Tak apa kalau mereka rela" ujar ku "Beragama tak di paksa dan tak di pujuk pujuk" ujarku lagi. Sembari menjelaskan tentang ke-Tauhidan yang kufahami, kuajak mereka semua bersyahadat.

Mungkin ini hikmah kepada keluarga pak Awang. Di Siang itupun disiang bulan suci Ramadhan 1432 H dihari yang ke dua puluhdua kami bersama – sama mengucapkan dua kalimat syahadat , dibaca berulang ulang, orang – perorang termasuk Arman dari koran harian Batam Pos yang kebetulan ikut bersama ke pulau Caros, Koran harian yang baru mendapat penghargaan internasional ini menyumbangkan mushaf Quran.

Wajah tua pak Awang terlihat berseri seri, dia berharap anak dan menantunya kembali kejalan yang benar. Pak Awang pun sangat – sangat berharap ada orang yang dapat mengajarkan Islam kepada mereka…..Semoga.

Selasa, 04 Januari 2011

JATUH CINTA



aku mencintaimu, maka kau menjadi cantik
tak perlu lagi aku melirik
apalagi membidik
bila ada yang datang pun pasti kutampik
karena tak ada lagi ruang berbilik
di hatiku dan di waktuku yang terus berdetik

aku mencintaimu, maka kau terlihat anggun
membuatku selalu tertegun
menatapmu laksana tersiram embun
yang terkumpul dari ujung-ujung dedaun
pergi sudah gelisahku ke ilalang rimbun
yang tinggal hanya kebahagiaan menahun

aku mencintaimu, maka kau berparas jelita
tanpa perlu ada mahkota
tanpa perlu gaun para putri raja
tanpa perlu riasan pipi merona
karena apa yang kau punya
menenggelamkan segalanya

tak ingin aku mencintaimu karena kau cantik
karena sang waktu akan membuatmu menarik

tak ingin aku mencintaimu karena kau anggun
karena aku tak bisa menikmatinya lagi ketika mataku rabun

tak ingin aku mencintaimu karena kau berparas jelita
karena perjalanan masa kan segera memudarkannya

****

karena aku mencintaimu, maka kau menjadi tampan
tak perlu aku mengalihkan pandangan
apa lagi mengharap datangnya seorang pangeran
bila ada yang datang pun pasti kusingkirkan
karena tak ada lagi ruang yang tersisakan
di hatiku dan di waktuku yang terus berjalan

karena aku mencintaimu, maka kau terlihat sempurna
tanpa perlu kau mengenakan pakaian kebesaran raja
tanpa perlu kau bertahta di singgasana
tanpa perlu kau tinggal di istana
karena apa yang kau punya
ibarat dunia seisinya

karena aku mencntaimu, maka kau terlihat gagah
membuatku selalu terperangah
pandanganku seolah tak ingin berkedip atau pun pindah arah
hilang semua gundah gelisah
tersingkir jauh oleh air bah
bersamamu segalanya menjadi indah

tak ingin aku mencintaimu karena kau tampan
karena sang waktu akan membuatmu tak lagi rupawan

tak ingin aku mencintaimu karena kau sempurna
karena kesempurnaan bukanlah milik manusia

tak ingin aku mencintaimu karena kau gagah
karena perjalanan masa kan segera membuatnya punah

Rabu, 04 Februari 2009

Tubagus bertemu Raden

Tubagus Abdul Hamid dari Rangkas Bitung Banten, kemarin bertemu dengan Raden Eman Sulaiman.

Apa gerangan keperluan Tubagus yang fasih berbahasa Arab ini?. Tak lain hanya bersilaturrahmi , sowan ke Pak Haji Sulaiman, tokoh masyarakat Batam, Pak Raden ini lebih 50 tahun bermastautin di Bumi Lancang Kuning, di Belakang Padang dan di Batam.


Umur Haji Sulaiman sudah 77 tahun, Tubagus Kamid demikian dia akrab disapa kerabatnya baru 45 tahun.
Kang Kamid adalah pengurus Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) dahulu lebih di kenal dengan Al Biir, membangun Ma'had di pusat dakwah Muhammadiyah Asean di Batam.

Tak salah sowan ke pak Raden, karena bulan September 2009 mendatang Ma'had ini telah dapat menerima mahasiswa baru sebanyak 200 orang, bukan itu saja mahasisa yang menuntut ilmu ke islaman dan bahasa Arab ini tidak di pungut biaya apapun, semuanya di tanggung oleh pihak Ma'had.


Ma'had pencetak dai ini mengharapkan mahasiswa yang akan ditampung nanti nya selepas belajar dapat mengaflikasi kan ilmu nya di tengah -tengah masyarakat terutama masyarakat terasing dan terpencil.

Selasa, 27 Januari 2009

Hotel Surya di Tanjung Pinang

Di awal tahun 70 an, bila hendak ke Medan dari Batam mesti lah menginap paling tidak semalam di Tanjung Pinang, KM Tampo Mas tak dapat merapat di bibir pelabuhan, kapal buang jangkar di belakang pulau Penyengat, dari situ dengan ferry para penumpang diangkut bertahap

Menginap di Tanjung Pinang semalam untuk melanjutkan perjalanan ke Medan atau dari Medan ke Batam tidak lah sulit untuk mencari penginapan, salah satu pilihan adalah Hotel Surya, hotel yang terletak di jalan Bintan 49 Tanjung Pinang Indonesia ini sudah termasuk penginapan yang bagus kala itu.

Hampir 40 tahun berselang Hotel Surya tempat kami menginap dahulu masih seperti semula, kamar-kamar di bagian depan dan taman di depan nya tak nampak jauh berbeda

Toko-toko di sekitaran Hotel ini pun tampak asri seperti 40 tahun yang lalu, tak jauh dari Hotel Surya berdiri dengan megah masjid Raya Tanjung Pinang, di depan masjid ada gelanggang olah raga Kaca Puri namanya, "wow kalau dulu sudah bisa bertanding di Kaca Puri berarti sudah hebat" ujar Junaidi. Berarti yg bertanding disitu sudah mencapai final

Kini di Tanjung Pinang telah banyak berdiri Hotel-Hotel megah, seiring dengan perjalanan waktu dan pengembangan Provinsi Kepulauan Riau mendaulat Tanjung Pinang untuk ke dua kali nya menjadi ibu kota provinsi yang terampas oleh Pekanbaru menjadi ibu kota Provinsi Riau.

Hotel Surya masih seperti dulu, seperti 40 tahun yang lalu, banyak menyimpan kenangan yang tak mungkin di lupakan.

Kamis, 15 Januari 2009

Hasibuan Tertua di Batam

Hasibuan, salah satu klan Batak, banyak marga Hasibuan di Batam, terbiasa orang Batak tidak dipanggil namanya tetapi yang jadi panggilan sehari hari adalah marganya. Hasibuan yang satu ini usia nya sudah cukup tua 74 tahun, sejak setahun yang lalu, lutut nya agak susah di gerakkan, mungkin pengapuran, dan enam bulan yang lalu nyaris dia tak dapat berjalan lagi, tergeletak di tempat tidurnya.

Hasibuan pak Azis demikian dia di sapa, tinggal di Blok IV Nagoya, dekat masjid An Nur. Di Batam sudah sejak awal tahun 70 an. Lihat lah ekspresi wajah nya, begitu gembira nya dia setelah dikabarkan mau di bawa keluar kamar dengan kursi roda

Hasibuan yang ini tak ada hubungan nya dengan Abidin Hasibuan salah seorang pengusaha terkemuka di Batam, dan bisa jadi orang China terkaya di Batam, Lha koq orang China punya marga Hasibuan?, bisa saja kalau jasa jasa nya banyak terhadap orang Batak, "Siapa orang China atau siapa pun di Batam ini yang bisa menerima dan menampung dan menyiapkan lapangan pekerjaan bagi pekerja orang Batak yang hanya tamatan SMP malah SD" kata Belius Hasibuan, salah seorang tokoh masyarakat Batam dan sintua HKBP ini, suatu saat ketika kutanya apa alasan Abidin dapat marga Hasibuan.

Enam bulan di tempat tidur tak sekali pun keluar ,aktifitas hanya di tempat tidur saja, temasuk buang air kecil dan air besar, "kalau duduk masih kuat bang" tanya ku saat itu lebaran di bulan syawal.

Dia tersenyum, sembari mengerak gerak kan pinggang dan ke dua tangan nya.

Iyalah Insyaallah kalau ada rezeki aku belikan kursi roda , agar abang dapat ke depan lagi "pinomat" melihat orang lalu lal;ang di depan rumah.

Hasibuan bapak Aziz , karena anak paling besar kebetulan lelaki dan bernama Aziz, sudah duda 3 tahun yang lalu, isteri tercinta telah mendahului dia, isterinya adalah orang China, agak nya itu lah kesamaan Hasibuan yang ini dengan Abidin Hasibuan.

Kemarin aku kerumah nya, membawa kursi roda yang di janjikan. Terimakasih terimakasih ya ya ... ucap nya berulang ulang ...............
Hem .... hem jadi ingat 35 tahun yang lalu , saat aku mula ke Batam , aku acap mampir di rumah Bang Haji Hasibuan ini di Jodoh sebelum terbakar ............... sudah banyak kawan - kawan beliau yang mendahului memenuhi panggilan khaliq ........... Semoga panjang umur dan di pulih kan kesehatan ... doa ku kepada Nya.............